Di Indonesia masih dalam tahap permulaan, dimana sekarang ini penggunaan CCTV masih digunakan dalam Lalu Lintas.

Seperti pada CCTV jalan raya, CCTV jalan Tol, dll. Belum begitu banyak digunakan pada tempat umum.

Untuk kualitasnya masih banyak yang menggunakan Kamera VGA, belum bisa digunakan sampai mendeteksi wajah.

Advertisement

Penggunaan Tekologi pengenal wajah (Facial Recognition) yang terus berkembang di Cina terbukti berhasil menangkap lebih dari 60 Ribu tersangka.

Komunitas HAM (Hak Asasi Manusia) khawatir tentang hal itu yang dapat digunakan lebih buruk dari pada untuk kebaikan.

Seorang pria yang dilaporkan melakukan penipuan juga telah ditangkap oleh polisi China setelah memanfaatkan teknologi CCTV yang bisa mengenali wajah sampai detail.

Mereka berhasil mengidentifikasi penipu tersebut diantara kerumunan 60.000 orang.

Polisi berhasil menangkap buronan/ penipu tersebut saat menghadiri konser di kota Nanchang, Cina.

CCTV TERCANGGIH

Menurut laporan Petugas Polisi setempat, Li Jin mengatakan pria itu sangat terkejut tertangkap karena yakin dia akan aman dalam kerumunan orang banyak.

di negara China sendiri dilaporkan bahwa telah memiliki lebih dari 176 juta kamera cctv yang dilengkapi dengan pengenalan wajah (Facial Recognition) untuk keamanan bahkan bisa untuk mengetahui pelanggaran kecil seperti jaywalking (menyebrang jalan bukan pada tempatnya).

Teknologi CCTV yang ada dimana-mana

Teknologi pengawasan tampaknya menjadi lebih cepat berkembang di mana-mana.

April lalu, Cina memasang CCTV pengenalan wajah di toilet umum yang memang kontroversional dikalangan masyarakat.

Namun tidak semua perkembangan ini untuk keamanan warga negara. Human Rights Watch (HRW) / pegiat Hak Asasi Manusia (HAM) telah menyatakan keprihatinan tentang tingkat pengawasan masyarakat di Tiongkok.

Peneliti senior HRW Maya Wang mengatakan pada Februari lalu China menggunakan data besar untuk menargetkan etnis minoritas.

Dapat Mempengaruhi Demokrasi di Luar Negeri

Penggunaan teknologi yang intrusif ini juga meluas ke negara-negara demokrasi Barat.

Bulan lalu, Pusat Kejahatan Real Time Kepolisian New York dan Bagian Identifikasi Wajah mengumumkan bahwa mereka mencari akses ke basis data SIM negara bagian.

Sementara Departemen Dalam Negeri Australia menolak anggapan bahwa surat perintah itu meminta untuk menggunakan basis data pengenalan wajah negara.

source :

avatar