Karangtengah menuju sentral produksi rempah-rempah

Posted by on May 26th, 2009 and filed under wonogiren. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

100_3470Masyarakat Karangtengah diminta menekuni pertanian dan menjadikan kawasan itu sebagai pusat produksi rempah-rempah seperti cengkih, merica, empon-empon dan janggelan (CMEJ). Selain itu, potensi budaya juga meski dilestarikan sehingga tidak punah. 

Harapan itu disampaikan Camat Karangtengah, Joko Triyono, kepada masyarakat di halaman Kantor Kecamatan Karangtengah, Minggu (24/5), dalam Karnaval gelar potensi unggulan lokal lima desa se-Kecamatan Karangtengah.

“Di Karangtengah, potensi pertanian CMEJ cukup tinggi dan masyarakat semua desa memelihara. Potensi-potensi itu agar dilestarikan karena menjadi modal bagi anak cucu. Jika ditekuni akan menjadi penghasilan masyarakat dan mampu menyejahterakan rakyat.”

Salah seorang warga Temboro, Sutiman, mengatakan harga cengkeh basah per kilogram senilai Rp 15.000, sedangkan kering senilai Rp 48.000/kg hingga Rp 50.000/kg.

Lebih lanjut Camat Joko Triyono mengatakan potensi budaya yang dimiliki lima desa yaitu tayub, jaran empat, kethek ogleng, campursari ataupun wayang kulit. ”Kalau bukan masyarakat sendiri, siapa lagi yang mau melestarikan. Sementara potensi budaya dan pertanian itu aset yang akan meningkatkan kesejahteraan rakyat.”

Sementara ketua panitia, Agus Sulaiman, menyatakan karnaval merupakan salah satu program PNPM Mandiri Perdesaan di bidang daya budaya. “Kegiatan ini kali pertama digelar dengan tujuan untuk melestarikan seni dan budaya asli di Jateng, khususnya di Karangtengah.”

Menurutnya, seni jaran empat di Pundung Kulon, Jeblogan, sekarang ini jarang ditampilkan. ”Padahal kesenian itu merupakan cikal bakal berdirinya dusun tersebut. Mudah-mudahan dengan ditampilkannya kesenian itu, masyarakat bisa mempelajari dan melestarikan sehingga tidak punah. Tidak diakui oleh daerah lain.”

Berdasar pengamatan Espos, jalur utama di depan kantor kecamatan dipadati pengunjung dan pedagang kaki lima. Masyarakat yang datang duduk lesehan di bawah pohon cengkih duduk rapi dan tertib. - Oleh : tus Solopos

Posting terkait


Leave a Reply